Tulungagung, kedannews.com – Sudah turun – temurun jika minum jamu terbukti secara empiris (turun temurun – red) membantu memelihara kesehatan dan kebugaran masyarakat Indonesia sejak ribuan tahun silam.
Hal tersebut diungkapkan Kasi Farmasi dan Perbekalan Medis Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung, Masduki, bahwa ramuan jamu tradisionil Indonesia sudah tercatat di beberapa relief candi dan kitab kuno seperti relief Candi Borobudur, Kitab Serat Centini, Kitab Tibb, dan buku jampi. Selasa (04/01/2022).
Perbedaan jamu tempo dulu dan masa kini adalah bahwa tempo dulu Formulasi bebasis emperis, di buat secara manual melalui penggerusan dan perebusan,
rasanya pait dan tidak enak”, katanya.
Dii jual secara keliling ( jamu) gendong dan warung kaki lima,
bentuknya seduhan (cairan), lalu
kemasannya sederhana terkesan kuno dan dikenal sebagai minuman orang tua.
Sedangkan jamu masa kini yaitu formulasi bebasis emperis dan penelitian, pengolahanya menggunakan teknologi, memiliki bebagai varian rasa. “Dapat di peroleh secara Online bahkan sekarang ada Café jamu, bentuknya kapsul tablet pil bahkan permen.
Di kemas menarik dan kekinian serta bisa dikonsumsi berbagai generasi”, terang Masduki.






