“Kalau dulu di era Prof Supandi masih kecil orang-orang di kebon itu ulat turi pun di makan karena sulitnya makanan dan beliau sekarang jadi Profesor, hakim agung. Kita yang hidupnya sudah enak, sekolah mudah makanan tercukupi masih malas-malasan. Inilah, perlunya membaca buku ini biar kita tahu, menjadi cambuk untuk kita,” tambah Edy Rahmayadi.
Supandi sendiri mengungkapkan sulit bila dia kembali menceritakan kisah hidupnya karena cukup menyedihkan. Seperti kakeknya, Ki Ibrahim yang terpaksa lari dari Trangkil dan tinggal di Deli karena berseteru dengan mandor Pabrik Gula Belanda. Kemudian ada juga kisah neneknya Mbah Surip yang diculik saat usia 14 tahun dan di bawa ke Deli untuk menjadi pekerja kebon.

Ada juga kisah ayahnya Ngadimun yang bergabung dengan pasukan Djamin Ginting dan Bejo menderita sakit paru-paru parah karena terlalu lama di hutan saat agresi Belanda I dan II. Itu membuat Supandi dibesarkan oleh kakek dan neneknya yang sehari-hari bekerja sebagai pekerja kebon.
“Saya kalau menceritakan ini kembali tertahan di sini (sambil menunjukkan lehernya dan menahan air mata), sulit karena cukup sedih. Tetapi, karena penulisnya mengatakan ini tidak hanya bisa menjadi biografi tetapi juga sebuah buku dan menjadi warisan untuk generasi kita, saya semangat,” kata Supandi.












