Kita hanya bisa menghimbau semoga mereka bisa meninggalkan pekerjaanya dalam hal melayani pria hidung belang.
Semoga para PSK bisa mendapat pekerjaan yang layak dan kembali kejalan yang benar, harap Lurah.
Terpisah, Ketua Karang Taruna, Kelurahan Bago, Supriyadi mengatakan, adanya pekerja seks di beberapa rumah dekat tempat tinggalnya yaitu “BALI” tidak merasa terganggu.
“Jumlah penghuni di lokasi prostitusi saat ini jauh berkurang. Kalau dulu sekitar 10 wisma namun sekarang tinggal 4 wisma tempat menampung para PSK. 1 wisma nya berisi tidak menentu, tergantung yang menempati , antara 2 – 4 orang”, jelas Supriyadi.
Mereka tidak setiap hari mangkal di situ, bisa dikatakan tidak menggantungkan hidup di lokalisasi tersebut. Sepengetahuan kami mulai dari pembinaan dan sosialisasi belum ada, mungkin penertiban ada karena mereka masih menempati tempat tersebut, ujarnya.
Kami berharap agar pemerintah dapat mengatasi penyakit masyarakat, mereka harus dibina dengan keterampilan, untuk bekal mereka berusaha lebih layak lagi, pinta Supriyadi.
Sekretaris I Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Tulungagung, Ifada Nur Rohmaniah, M.Psi, menjelaskan, Pemerintah Kabupaten, bekerjasama dengan Komisi Penanggulangan AIDS sebagai lembaga koordinatif dan monev, kita lakukan intervensi medis kaitannya dengan populasi kunci ( beresiko ) mendapatkan pemeriksaan Infeksi Menular Seksual (IMS) Vouluntary Counseling and testing (VCT).












