“Esensi takjil dalam tradisi Ramadhan bukan sekadar hidangan ringan untuk membatalkan puasa, melainkan memiliki makna filosofis, spiritual, dan sosial yang mendalam,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa istilah takjil berasal dari bahasa Arab ta’jil yang berarti menyegerakan.
“Makna tersebut merujuk pada anjuran atau sunnah untuk segera berbuka puasa ketika waktu Maghrib tiba,” jelasnya.
Menurutnya, esensi takjil bagi umat Islam tidak hanya sebatas menyegerakan berbuka puasa sesuai sunnah Nabi, tetapi juga menjadi sarana memulihkan energi setelah seharian berpuasa serta menjadi bentuk sedekah kepada sesama.
Ia menambahkan bahwa memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa juga diyakini membawa pahala besar tanpa mengurangi pahala orang yang menjalankan puasa tersebut.
Dari sudut pandang sosial kemasyarakatan, kegiatan berbagi takjil juga memiliki nilai penting dalam memperkuat solidaritas di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, rasa empati terhadap sesama dapat tumbuh, sekaligus membantu meringankan beban masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa.
Selain itu, kegiatan berbagi takjil dinilai menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga serta menjadi wujud rasa syukur di bulan penuh berkah.












