“Pelaksanaan Shalat Isya, Tarawih, dan tadarus ini tidak hanya berlangsung pada malam ke-10, tetapi rutin digelar setiap malam sejak awal Ramadhan dengan jumlah jamaah yang juga mencapai ratusan orang. Ini menjadi indikator positif dalam proses pembinaan spiritual warga binaan,” ujar Fonika Affandi melalui Prayoga Yulanda.
Ia menambahkan, Ramadhan menjadi momentum penting untuk memperkuat keimanan dan membangun kesadaran diri. Menurutnya, pembinaan tidak hanya berfokus pada aspek keterampilan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan sikap.
“Melalui suasana religius yang konsisten ini, kami berharap nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan ketenangan batin dapat tumbuh dalam diri warga binaan sebagai bekal ketika kembali ke masyarakat,” tambahnya.
Dengan sinergi antara pembinaan dan pengamanan yang berjalan seimbang, kegiatan keagamaan di dalam lapas tetap berlangsung aman, tertib, dan khusyuk. Ramadhan di Lapas Kelas I Medan pun menjadi ruang pembelajaran spiritual yang berkelanjutan serta bagian dari komitmen menghadirkan sistem pemasyarakatan yang humanis dan berorientasi pada perubahan positif.












