“Awalnya pakai becak. Lama-lama, warga ikut bantu. Sekarang, tempat ini jadi terang, ramai, dan aman. Dulu gelap, jalan buntu. Sekarang jalan terbuka,” jelasnya. Keberadaan kafe ini juga membuka akses jalan pintas yang dulunya tertutup semak dan dianggap angker.
Selain membuka usaha, Ki Ahmad juga rutin mengadakan forum komunikasi dan pengajian tasawuf. Ia mengaku sebagai guru tasawuf yang mengajarkan kesadaran spiritual bagi warga sekitar. “Saya buka forum tentang ilmu kesadaran manusia. Ini bagian dari tasawuf, dan siapa pun boleh ikut,” katanya.
Di tempat yang sama, Suparti, pengelola warung Cafe Alam Kubur, menyebut bahwa selama sembilan bulan membuka usaha di sana, ia mengalami berbagai kejadian tak masuk akal. Pada awal pembukaan warung, ia mendengar suara keras seperti durian jatuh, tapi ternyata kepala puntung yang lompat-lompat tanpa sebab.
Peristiwa ganjil lainnya dialami Suparti saat mencuci piring. Ia melihat sosok wanita berbaju putih tergantung di pohon, tanpa kaki. “Tiga kali saya lihat seperti itu. Bajunya putih, tinggi besar, tapi tak ada kakinya. Saya yakin itu kuntilanak,” ujarnya.












