Iķhyar melanjutkan inilah saatnya PDIP tunjukkan keseriusan dan komitmennya kepada rakyat dan korban kudatuli 96 .
” jangan sudah tidak diurus malah isunya dijual sebagai komoditas politik”, sindirnya.
Peristiwa Kudatuli bisa dikatakan sebagai kerusuhan terbesar pasca kejadian Malari 1974. Massa menyebar dimulai dari satu tempat hingga pemberontakan meluas di sepanjang jalan utama. Sambil bergerak massa membakar berbagai simbol kekuasaan politik dan ekonomi Orde Baru,–kantor Departemen Pertanian, bank, agen, mobil, dan sebagainya. Peristiwa ini berubah menjadi kerusuhan di beberapa wilayah di Jakarta, khususnya di kawasan Jalan Diponegoro, Salemba, Kramat. Beberapa kendaraan dan gedung terbakar.
Dampak dari peristiwa 27 Juli menurut hasil penyelidikan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia tercatat 5 orang meninggal dunia, 149 orang (sipil maupun aparat) luka-luka, 136 orang ditahan. Komnas HAM juga menyimpulkan telah terjadi sejumlah pelanggaran hak asasi manusia.
Akhir dari skenario peristiwa tersebut, pemerintah menuduh aktivis PRD sebagai penggerak kerusuhan. Pemerintah Orde Baru kemudian memburu aktivis PRD di seluruh Indonesia dan menjebloskan yang tertangkap ke penjara.












