“Hari ini kami senang mendengar ada buku yang ditulis sampai jilid 1, jilid 2 dan nanti ada jilid 3 berisi cerita tokoh-tokoh Melayu yang namanya sudah melegenda hingga nasional. Saat ini memang kita mengharapkan munculah generasi muda Melayu yang nantinya bisa menjadi tokoh di Sumut dan bisa mengembangkan dan mau melestarikan Budaya Melayu,” ujar Ijeck.
Saat ini, lanjut Ijeck, banyak orang di luar Sumut mengenal Sumut atau Medan dengan suku bataknya. “Sedikit miris kita mendengar kalau saat kita misalnya ke Jakarta dan mengenalkan diri dari Sumut atau Medan, yang ditanya marganya apa? Saya selalu ditanya itu, saya bilang gak punya marga, saya dari mulai nenek ada keturunan Melayu. Barulah mereka tahu kalau di Sumut bukan hanya orang Batak. Kenapa ini terjadi, pastinya karena regenerasi saat ini dan juga banyak kita yang tidak memunculkan adat istiadat dan budaya Melayu,” kisahnya.
Usaha melestarikan budaya, khususnya peninggalan yang menjadi bukti keberadaan Melayu di Sumut memang tidak mudah. Untuk itu, Ijeck berharap buku ini menjadi salah satu pembangkit semangat generasi muda untuk ikut menjaga dan melestarikan budaya dan peninggalan yang masih ada, seperti di antaranya Istana Maimun. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut juga selalu siap untuk ikut berpartisipasi dalam memajukan budaya Melayu dan lainnya.












