Namun, Bupati meminta kepada HRNS agar fokus kegiatannya di lapangan tidak hanya fokus pada kopi Arabika semata, namun pengembangan kopi Robusta Sidikalang pun harus jadi perhatian.
“Daerah kami ini unik, punya ketinggian tanah yang berbeda-beda di setiap wilayah lokasi produksi kopinya, sehingga cita rasa kopi yang dihasilkan pun unik. Sebagai komitmen kami mengembalikan kejayaan kopi Sidikalang ini agar kembali mendunia, kami ingin petani kami diberikan pengetahuan bertani kopi yang baik bukan hanya Arabika, namun juga Robusta,” katanya.
Kepada tim HRNS, Eddy Berutu juga menyampaikan bahwa kopi Sidikalang juga punya keunikan lain, di mana petani penghasil kopinya didominasi oleh kaum perempuan (ibu-ibu). Bahkan cerita keberadaan kaum perempuan sebagai penopang ekonomi keluarga ini sudah dibukukan dan diperkenalkan pada forum G20 dan W20.
“Kami senang dan bangga dengan kerja sama yang sudah ada ini. Namun lebih jauh kami membutuhkan best practice (pelatihan terbaik) terutama kepada petani milenial yang kelak akan menjadi contoh bagi petani yang sudah lebih tua. Perlahan pertanian kita naik ke kuadran lebih tinggilah, sebab pertanian adalah tulang punggung Dairi, seperti kopi,” kata Eddy.












