Ia menambahkan, gejala yang dialami para siswa seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut mengarah kuat pada keracunan makanan akibat kontaminasi bakteri.
Menurutnya, dugaan sementara keracunan dipicu lamanya jeda waktu antara proses pengolahan hingga makanan dikonsumsi. Kondisi ini diperparah oleh sistem penyimpanan dan distribusi yang tidak memenuhi standar keamanan pangan.
“Durasi distribusi yang terlalu lama memungkinkan pertumbuhan bakteri. Selain itu, suhu penyimpanan juga tidak sesuai standar,” jelasnya.
Meski demikian, Henry memastikan seluruh siswa yang terdampak telah mendapatkan penanganan medis dan kini dalam kondisi stabil.
Bupati Dairi menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak akan mentoleransi kelalaian dalam penyediaan makanan bagi pelajar. Ia menyebut keselamatan siswa menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program nasional tersebut.
“Program ini bagian dari strategi nasional menuju Indonesia Emas 2045. Namun kesehatan peserta didik tetap menjadi prioritas. Kita akan melakukan evaluasi menyeluruh mulai dari pengadaan, pengolahan hingga distribusi,” tegas Vickner.
Pemerintah Kabupaten Dairi juga memastikan seluruh biaya pengobatan siswa yang dirawat di RSUD Sidikalang, RS Serenapita, serta sejumlah puskesmas dan klinik ditanggung oleh Badan Gizi Nasional (BGN).












