Humaniora

Rico Waas Soroti Pentingnya Standar Bilal Mayyit, Regenerasi Jadi Tantangan yang Tak Bisa Ditunda

12
×

Rico Waas Soroti Pentingnya Standar Bilal Mayyit, Regenerasi Jadi Tantangan yang Tak Bisa Ditunda

Sebarkan artikel ini

Audiensi bersama Bilal Mayyit Indonesia Kota Medan membahas peningkatan kompetensi pengurus jenazah, penyusunan buku panduan, hingga rencana bantuan paket fardhu kifayah bagi warga kurang mampu.

Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menerima audiensi pengurus Bilal Mayyit Indonesia (BMI) Kota Medan di Rumah Dinas Wali Kota Medan saat membahas penguatan kompetensi bilal mayyit dan standar pengurusan jenazah, Kamis (23/7/2026). (kedannews.co.id/Foto: Ist)

MEDAN, kedannews.co.id – Penguatan kapasitas bilal mayyit menjadi salah satu perhatian Pemerintah Kota Medan. Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menilai profesi yang bertugas mengurus jenazah memiliki amanah besar sehingga harus didukung dengan pengetahuan agama yang memadai serta tata cara pelaksanaan yang sesuai syariat dan standar operasional.

Hal itu disampaikan Rico Waas ketika menerima kunjungan pengurus Bilal Mayyit Indonesia (BMI) Kota Medan yang dipimpin Ketua BMI Kota Medan, Amir Husin, di Rumah Dinas Wali Kota Medan, Kamis (23/7/2026). Audiensi tersebut juga dihadiri Ketua MUI Kota Medan Hasan Matsum selaku Penasehat BMI Kota Medan.

Dalam pertemuan tersebut, Rico Waas menilai keberadaan bilal mayyit memiliki peran penting dalam setiap tahapan pelayanan kepada masyarakat, khususnya umat Islam. Menurutnya, tugas tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga menyangkut penghormatan terakhir kepada seseorang yang telah meninggal dunia.

Ia mengibaratkan peran bilal mayyit sebagai bagian yang melengkapi siklus kehidupan manusia. Bila saat kelahiran seseorang mendapatkan pelayanan dari tenaga kesehatan, maka ketika meninggal dunia, proses pengurusan jenazah juga membutuhkan orang-orang yang memahami tata cara sesuai ketentuan agama.

“Bagi saya, keberadaan bilal mayyit sangat berharga. Jenazah dimandikan dengan benar dan didoakan banyak orang. Tidak semua orang memiliki kesempatan mendapatkan pelayanan seperti itu, sehingga peran bilal mayyit sangat berarti,” ujar Rico Waas.

Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang tersebut perlu terus dilakukan melalui pembinaan yang berkelanjutan. Pemahaman mengenai tata cara memandikan, mengafani, menyalatkan hingga proses pemakaman harus dilaksanakan berdasarkan syariat Islam dan standar operasional yang telah ditetapkan.

“Kalau dijalankan sesuai SOP, tentu kualitasnya akan semakin profesional. Karena itu, pemahaman mengenai tata cara bilal mayyit harus terus diperkuat,” katanya.

Rico Waas juga mengapresiasi langkah BMI Kota Medan yang telah menyusun buku panduan pengurusan jenazah. Menurutnya, keberadaan buku tersebut dapat menjadi acuan bersama agar pelaksanaan tugas bilal mayyit di berbagai wilayah memiliki standar yang sama.

Selain peningkatan kompetensi, ia juga memandang perlu adanya penguatan organisasi hingga tingkat kewilayahan. Dengan demikian, masyarakat di setiap lingkungan memiliki akses terhadap bilal mayyit yang memahami tata cara pengurusan jenazah secara benar.

Sebagai bentuk perhatian kepada masyarakat kurang mampu, Pemerintah Kota Medan juga berencana menyediakan paket fardhu kifayah bagi warga yang masuk kategori desil 1 dan desil 2. Program tersebut diharapkan dapat membantu keluarga yang membutuhkan ketika menghadapi musibah kematian.

Sementara itu, Ketua Bilal Mayyit Indonesia Kota Medan, Amir Husin, menjelaskan audiensi tersebut sekaligus menjadi momentum memperkenalkan kepengurusan BMI Kota Medan yang telah dilantik pada Agustus lalu. Ia mengapresiasi sambutan dan dukungan yang diberikan Pemerintah Kota Medan terhadap organisasi tersebut.

Menurut Amir, BMI Kota Medan selama ini aktif mengadakan pelatihan serta pembinaan kepada generasi muda agar semakin banyak masyarakat yang memiliki kemampuan mengurus jenazah sesuai syariat Islam. Organisasi tersebut juga telah menyampaikan surat kepada Kesbangpol Kota Medan dan saat ini berkantor di Jalan Karya, Karang Berombak.

“Kami juga membuat program roadshow ke berbagai kecamatan. Kemarin kami melaksanakannya di Kecamatan Medan Johor dan sambutan masyarakat sangat baik. Mereka berharap kegiatan seperti ini lebih sering digelar,” ungkapnya.

Amir menambahkan, kebutuhan regenerasi menjadi tantangan yang harus segera diantisipasi. Pasalnya, sebagian besar bilal mayyit saat ini berasal dari kalangan lanjut usia. Oleh karena itu, BMI terus memperluas pelatihan kepada pemuda, remaja, hingga para guru agar semakin banyak masyarakat yang memiliki keterampilan dalam pengurusan jenazah sesuai tuntunan syariat.