MEDAN, kedannews.co.id – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang diikuti kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) serta harga sejumlah kebutuhan pokok dinilai berpotensi memperburuk kondisi ekonomi masyarakat. Situasi tersebut dikhawatirkan semakin menggerus daya beli, khususnya bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dan warga di wilayah pedesaan.
Pandangan tersebut disampaikan Wakil Ketua Bidang Perekonomian DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara, Drs. Wong Chun Sen Tarigan, M.Pd.B, saat memberikan keterangan kepada wartawan, Minggu (14/6/2026).
Menurut Wong Chun Sen, menguatnya nilai dolar AS terhadap rupiah berdampak pada meningkatnya biaya impor berbagai komoditas dan bahan baku industri. Kondisi tersebut kemudian berimbas pada kenaikan harga barang, termasuk bahan bakar, pangan, dan kebutuhan sehari-hari yang dikonsumsi masyarakat.
“Kenaikan nilai dolar terhadap rupiah memicu lonjakan biaya impor dan meningkatkan tekanan inflasi. Dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku usaha, tetapi juga masyarakat kecil yang harus menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok setiap hari,” ujarnya.
Ia menilai, meskipun pelemahan rupiah dapat memberikan keuntungan bagi sektor ekspor maupun industri pariwisata, dampak yang dirasakan masyarakat secara umum justru lebih besar karena harga berbagai barang konsumsi menjadi semakin tinggi.
Barang elektronik, bahan bakar minyak, hingga komoditas pangan disebut menjadi sektor yang paling mudah terdampak akibat perubahan nilai tukar tersebut.
“Kalau daya beli masyarakat terus menurun, maka perputaran ekonomi juga akan melambat. Ini yang harus menjadi perhatian serius pemerintah,” tegasnya.
Wong juga menyoroti kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax yang mencapai Rp16.250 per liter. Menurutnya, kenaikan tersebut merupakan konsekuensi dari tingginya harga minyak dunia yang diperparah oleh melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS.
Meski demikian, ia menekankan pemerintah tidak boleh membiarkan masyarakat menanggung seluruh dampak ekonomi tersebut tanpa adanya langkah perlindungan yang nyata.
Ia mendorong Pemerintah Provinsi Sumatera Utara segera mengambil kebijakan strategis untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memberikan rasa aman kepada masyarakat di tengah meningkatnya tekanan ekonomi.
“Jangan sampai masyarakat panik karena harga-harga terus naik. Pemerintah harus hadir memberikan kepastian dan perlindungan kepada rakyat,” katanya.
Sebagai upaya mengantisipasi kondisi tersebut, Wong mengusulkan sejumlah langkah yang dinilai dapat segera dijalankan pemerintah daerah. Di antaranya memperluas pelaksanaan operasi pasar murah di seluruh kabupaten dan kota, terutama di daerah pedesaan yang memiliki keterbatasan akses distribusi.
Selain itu, pemerintah juga diminta memastikan ketersediaan stok bahan pokok melalui pengawasan distribusi secara ketat guna mencegah praktik penimbunan yang dapat memicu kenaikan harga.
Ia juga mendorong penguatan koordinasi antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat, Bulog, distributor, dan pelaku usaha agar rantai pasok kebutuhan pokok tetap berjalan lancar.
Di sisi lain, menurutnya, dukungan terhadap petani, nelayan, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perlu ditingkatkan agar produksi dalam negeri semakin kuat dan ketergantungan terhadap barang impor dapat ditekan.
Tak hanya itu, Wong menilai pemerintah daerah juga perlu lebih aktif memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kondisi ekonomi yang sedang terjadi agar tidak mudah terpengaruh isu-isu yang dapat memicu kepanikan.
“Masyarakat perlu mendapatkan informasi yang benar. Jangan sampai isu kenaikan harga dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk memainkan harga atau menimbulkan kepanikan di pasar,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Wong mengaku prihatin terhadap kondisi masyarakat kecil yang harus menghadapi tekanan ekonomi di tengah meningkatnya biaya hidup. Ia menilai kelompok pekerja harian, buruh, hingga pekerja mandiri merupakan pihak yang paling rentan terdampak karena penghasilannya sebagian besar digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Kita harus memahami bahwa banyak masyarakat yang bekerja setiap hari hanya untuk bertahan hidup bersama keluarganya. Ketika BBM naik dan harga sembako ikut melonjak, kelompok inilah yang paling merasakan dampaknya,” ungkap Wong.
Menutup pernyataannya, Wong mengajak seluruh elemen, baik pemerintah, pelaku usaha maupun masyarakat, memperkuat semangat gotong royong dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah agar daya beli masyarakat tetap terpelihara.
“Gotong royong dan kepedulian sosial harus diperkuat. Pemerintah harus bergerak cepat, pelaku usaha harus berperan menjaga stabilitas harga, dan masyarakat harus tetap tenang. Dengan kerja sama yang baik, saya yakin Sumatera Utara mampu melewati tekanan ekonomi ini,” pungkasnya.












