“Bagaimanapun, saya meminta masyarakat arif menyikapi hal inidan tidak menggeneralisir pondok pesantren, sebab kasus ini hanya dilakukan oknum, bukan ponpesnya. Masyarakat jangan hilang kepercayaan terhadap pesantren. Saya yakin pesantren dan sekolah, apapun agama nya tidak ada mengajarkan kebiadaban seperti ini. Insya Allah masih banyak pesantren dan sekolah agama yang baik dan benar,” ujarnya.
Dalam kasus ini, Ahmad Hadian minta Pemerintah terus mengawasi dan melakukan monitoring dan evaluasi setiap lembaga pendidikan apapun namanya. Kebaikan sebuah lembaga pendidikan itu sangat tergantung pada kualitas guru-gurunya. Jika gurunya baik, akan baik semuanya. Sebaliknya gurunya bobrok, semuanya akan bobrok.
Karena itu, Praktisi Pendidikan ini mengingatkan semua pengelola lembaga pendidikan dan pemerintah bahwa pembinaan guru menjadi sangat-sangat krusial. Melakukan pembinaan terhadap guru secara berkala. Sebab guru juga manusia yang tetap punya kewajiban belajar dan mendapat pendidikan seumur hidupnya. Bukan setelah jadi guru lantas tak perlu lagi belajar, ini prinsip yang sangat salah.
“Jika menemukan gejala nyeleneh dari salah seorang gurunya, pihak pengelola wajib segera keluarkan dari lingkungan sekolah tersebut. Untuk apa penyakit dipelihara. Masih banyak guru yang baik dan benar yang siap mengabdikan dirinya kepada dunia pendidikan,” ungkapnya.












