
Wacana branding Kota Sukabumi sebagai kota polisi sudah berlangsung lama. Beberapa waktu lalu, Setukpa Lemdiklat Polri, Yayasan Dapuran Kipahare, dan Masata, menginisiasi kegiatan webinar Kota Sukabumi sebagai kota polisi dalam rangkaian Sukabumi tourism festival. Dalam acara webinar tersebut, Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi mengatakan wacana kota polisi sudah lama didiskusikan, baik formal maupun informal, ini karena dari sisi historis, psikologis, dan empiris, dinyatakan layak Kota Sukabumi dijadikan sebagai kota polisi, oleh karenanya harapan besar untuk terealisasinya city branding Sukabumi sebagai kota polisi.
Fahmi menambahkan Kota Sukabumi dikaitkan dengan kota polisi karena Kota Sukabumi sebagai pembeda dengan daerah lain, tidak ada didaerah lain yang masyarakatnya sedekat masyarakat Sukabumi dengan polisi, julukan kota polisi juga sebagai salah satu untuk membentuk citra positif Kota Sukabumi, dan kota polisi disukabumi sebagai fasilitator pihak luar dan aktivasi dengan pihak internal disukabumi baik dari sisi ekonomi, pariwisata, pendidikan dan sektor lainnya.
Selain daripada itu, Kota Sukabumi memiliki nilai sejarah yang kuat sambung Fahmi, dengan adanya Sekolah Polisi yang dulu namanya Sekolah Polisi Negara kemudian berubah menjadi Akabri Bagian Kepolisian, kemudian berubah lagi menjadi Secapa Polri dan akhirnya saat ini menjadi Setukpa Lemdiklat Polri. Sehingga Kota Sukabumi sulit dipisahkan dari unsur kepolisian, selain dari itu dari sisi psikologis, ketika para siswa Setukpa melaksakan kegiatan pesiar sabtu dan ahad disitu terjadi interaksi antara siswa dan warga Kota Sukabumi sehingga melahirkan komunikasi dan pertukaran kebudayaan karena siswa berasal dari seluruh Indonesia dengan budaya dan bahasa berbeda, sehingga diharapkan kedepannya dapat melahirkan sosok polisi yang ramah, santun sebagaimana karakter Kota Sukabumi. Juga dengan adanya siswa Setukpa dapat menjadi daya ungkit ekonomi di sekitar wilayah Sukabumi, ungkap Ahmad Fahmi.












