Ekonomi

Aset PUD RPH Dinilai Belum Maksimal, Pemko Medan Siapkan Strategi Pengembangan Bisnis Daging

8
×

Aset PUD RPH Dinilai Belum Maksimal, Pemko Medan Siapkan Strategi Pengembangan Bisnis Daging

Sebarkan artikel ini

Optimalisasi lahan, pembangunan cold storage hingga hilirisasi produk disiapkan untuk memperkuat sumber pendapatan perusahaan daerah.

Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas memimpin Rapat Monitoring dan Evaluasi PUD Rumah Potong Hewan (RPH) Triwulan III di Rumah Dinas Wali Kota Medan, membahas strategi optimalisasi aset serta pengembangan usaha, Selasa (28/7/2026). (kedannews.co.id/Foto: Ist)

MEDAN,Β kedannews.co.id – Pemerintah Kota Medan mulai memfokuskan pembenahan sektor bisnis di PUD Rumah Potong Hewan (RPH) melalui pemanfaatan aset yang lebih produktif. Selain memperkuat layanan pemotongan ternak, perusahaan daerah tersebut juga didorong mengembangkan usaha baru berbasis rantai pasok daging agar memiliki sumber pendapatan yang lebih beragam.

Langkah tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Rapat Monitoring dan Evaluasi PUD Rumah Potong Hewan Triwulan III yang dipimpin Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas di Rumah Dinas Wali Kota Medan, Selasa (28/7/2026). Rapat turut dihadiri Sekretaris Daerah Kota Medan Wiriya Alrahman, Asisten Umum Laksamana Putra Siregar, pimpinan perangkat daerah, Direktur Utama PUD RPH Irwansyah Gultom beserta jajaran direksi.

Dalam evaluasi itu, Rico menilai perusahaan daerah harus mulai mengubah strategi bisnis agar tidak hanya bergantung pada pendapatan dari jasa pemotongan hewan. Menurutnya, berbagai aset yang dimiliki perlu dioptimalkan untuk menciptakan peluang usaha baru yang mampu meningkatkan kinerja keuangan perusahaan.

Selain pembenahan internal, Rico meminta jajaran direksi lebih aktif memperluas jaringan kerja sama dengan pelaku usaha di sektor peternakan maupun industri pengolahan daging di berbagai daerah, termasuk Pulau Jawa.

Menurutnya, pendekatan proaktif menjadi bagian penting dalam memperluas pasar dan menarik minat investor.

“Kalau memang perlu, jemput bola. Datangi perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang daging, tawarkan proposal kerja sama. Kita tidak bisa lagi hanya menunggu peluang datang,” tegas Rico Waas.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa langkah menawarkan kerja sama harus dibarengi dengan pembenahan manajemen perusahaan. Tata kelola organisasi, sistem operasional, hingga standar pelayanan dinilai perlu diperkuat agar calon investor memiliki keyakinan untuk bermitra dengan PUD RPH.

Dalam kesempatan itu, Rico juga menyoroti kondisi pendapatan perusahaan yang dinilai belum sebanding dengan aset yang dimiliki. Dengan luas lahan sekitar lima hektare, menurutnya masih terdapat ruang besar untuk meningkatkan produktivitas perusahaan.

Berdasarkan data yang dipaparkan dalam rapat, jumlah pemotongan sapi tertinggi masih berada pada kisaran 892 ekor setiap bulan. Capaian tersebut dinilai belum cukup memberikan kontribusi optimal terhadap kesehatan keuangan perusahaan.

“Kalau ingin perusahaan ini benar-benar sehat, jumlah pemotongan harus meningkat beberapa kali lipat. Dengan kondisi sekarang, perusahaan akan stagnan. Kita tentu tidak ingin RPH berjalan tetapi perlahan-lahan mati,” ujar Rico Waas.

Untuk meningkatkan pendapatan, ia juga mengarahkan agar aset yang belum dimanfaatkan secara maksimal dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga sesuai ketentuan yang berlaku. Skema tersebut diharapkan mampu menghasilkan nilai ekonomi baru bagi perusahaan daerah.

Salah satu rencana yang disiapkan adalah pengembangan kawasan peternakan unggas. Lahan yang tersedia diminta segera diukur, dilakukan appraisal melalui KPKNL, kemudian ditawarkan kepada investor dengan pola kerja sama yang saling menguntungkan.

Selain pengembangan kawasan peternakan, Rico turut mendorong pembangunan fasilitas cold storage sebagai penunjang distribusi serta pengembangan industri hilir berbasis produk olahan daging. Menurutnya, langkah tersebut dapat meningkatkan nilai tambah sekaligus memperluas sumber pendapatan perusahaan.

“Hilirisasi harus mulai dipikirkan. Produk turunannya bisa berupa bakso, kornet, maupun olahan daging lainnya. Jadi sumber pendapatan perusahaan semakin beragam,” sebut Rico Waas.

Ia juga meminta proposal pengembangan bisnis segera diselesaikan dalam pekan yang sama. Dokumen tersebut diharapkan memuat rencana usaha secara rinci, analisis bisnis, serta daftar perusahaan yang berpotensi menjadi mitra kerja sama.

Menutup arahannya, Rico menegaskan bahwa rapat evaluasi tidak dimaksudkan untuk mencari pihak yang harus disalahkan. Sebaliknya, forum tersebut menjadi sarana memperbaiki kinerja perusahaan agar mampu berkembang lebih baik di masa mendatang.

“Kami tidak ingin menyalahkan RPH. Kami ingin RPH menjadi lebih baik. Karena itu setiap evaluasi harus menghasilkan solusi, bukan sekadar menyampaikan data mentah. Pada pertemuan berikutnya saya ingin melihat data yang sudah matang, argumentasi yang kuat, serta progres nyata dari seluruh rencana pengembangan yang telah disepakati,” pungkasnya.