“Saya melihat pernyataan Ibu Mega tersebut cermin kegalauannya terkait elektabilitas Ganjar-Mahfud yang tak kunjung naik elektabilitas nya, lalu mencoba mengarahkan ingatan kolektif rakyat pada masa Orde Baru dengan mengaitkannya ke pasangan tertentu, tapi yang terjadi justru sebaliknya, rakyat jadi ingat kebijakan Mega yang sangat represif dan mereka justru takut situasi represif tersebut akan terulang kembali, karena rakyat tahu bahwa pasangan ini adalah petugas partai, sementara pimpinan partainya Ibu Megawati ,” ungkap Ikhyar.
Menurut Ikhyar masyarakat khususnya generasi milenial saat ini ingin melihat sosok calon presiden itu yang bisa mewakili keterwakilan dan aspirasi kaum muda.
“Masyarakat khususnya milenial dan Gen Z itu sederhana dalam melihat sosok pemimpin ke depan, mereka ingin ada lapangan pekerjaan bagi mereka nanti, kreativitas dan inovasi anak muda di wadahi, serta berharap Indonesia menjadi negara maju yang bisa memimpin peradaban dunia, kaum milenial itu orangnya percaya diri, optimis, kreatif dan inovatif serta punya style sendiri, jumlahnya hampir 56 persen lho mereka ini. Aspirasi mereka itu ada pada pasangan Prabowo- Gibran , mereka melihat Prabowo seorang yang optimis, percaya diri dan punya pengalaman tetapi mengerti jiwa anak muda plus Gibran yang muda tetapi percaya diri dan punya pengalaman, baik di pemerintahan maupun di bisnis, ujar ikhyar












