“Rasanya kurang tepat jika kita meminta baju adat Melayu menjadi satu-satunya pakaian adat yang digunakan pegawai di lingkungan Pemko Medan. Sebab, justru hal itu malah akan menyinggung saudara-saudara kita suku lainnya. Jangan sampai, penolakan ini terlihat sebagai bentuk arogansi,” ungkap Ma’moon Al Rasyid.
Lebih lanjut, Ma’moon Al Rasjid mengaku, SK Wali Kota tentang pemakaian pakaian adat tersebut tidak lantas menjadikan Melayu hilang di bumi, terutama di Kota Medan. Sebab, perjalanan Kota Medan tidak akan bisa lepas dari Suku Melayu.
“Penolakan ini saya rasa juga kurang menjunjung semangat persatuan dan kesatuan serta keberagaman yang bisa hidup berdampingan di Kota Medan, sebab sedari dulu sudah terbentuk. Terlebih ketika Kesultanan Deli pada masa lalu juga memberikan kesempatan dan mengajak bersama-sama semua suku untuk membangun Kota Medan,” jelasnya.
Selain itu, tambah Ma’moon Al Rasjid, Bobby Nasution sebagai orang nomor satu di Kota Medan secara tersirat juga menunjukkan rasa hormat dan bangganya terhadap Suku Melayu. Terbukti, hal ini ditunjukkan dengan penggunaan baju adat Melayu di hari pertama pemberlakuan kebijakan pemakaian baju adat tersebut dilakukan.












