“Saya kala itu melihat ada kesan mengarah pada oligarki. Itulah mengapa saya ikut aktif berjuang memenangkan Akhyar Salman yang didukung Partai Demokrat dan PKS. Siang dan malam tanpa lelah kami bersama relawan berjuang mendekati rakyat meski banyak tantangan dan hambatan yang dihadapi,” tegasnya.
Meski kemudian Akhyar Salman kalah tipis, namun Tony Candra mengaku dirinya tak menyesal sedikit pun telah ikut berjuang mendukung pasangan yang diusung koalisi rakyat. Malah ia merasa jatuh hati alias cinta dengan Partai Demokrat yang telah berani tanpa pamrih mengusung Akhyar Salman.
Apalagi kemudian ia sangat tidak bisa menerima adanya upaya pengambilalihan kepemimpinan Partai Demokrat oleh oknum elit politik penguasa melalui KLB abal-abal .
“Saya sejak pagi hari ikut turun ke lokasi KLB bersama kader lainnya guna menggagalkan acara . Namun saat itu ada terjadi situasi memanas dimana ada massa bayaran yang menjaga dan menghalau kami , sementara aparat keamanan saat itu terkesan melakukan pembiaran pelaksanaan KLB yang tak punya ijin itu,” kata Tony .
Setelah itu Tony Candra resmi bergabung dan menjadi kader Demokrat dengan mengantongi KTA yang ditandatangani Ketum AHY. Kiprahnya berlanjut dan saat ini tercatat sebagai pengurus DPD dengan posisi Wakil Bendahara di bawah kepemimpinan Lokot Nasution .












