Sejumlah kompetensi yang dinilai semakin dibutuhkan antara lain teknisi kendaraan listrik, tenaga instalasi pembangkit listrik tenaga surya, petugas pengoperasian stasiun pengisian, tenaga pemeliharaan, hingga pekerja yang memahami penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Yassierli menegaskan bahwa keberhasilan transisi hijau tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan teknologi dan investasi. Kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu unsur penting agar teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Transisi hijau membutuhkan teknologi, investasi, dan yang paling penting, tenaga kerja yang kompeten,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah mendorong agar program pelatihan vokasi tidak berjalan sendiri tanpa keterkaitan dengan kebutuhan perusahaan. Dunia industri dinilai perlu dilibatkan sejak penyusunan materi pembelajaran hingga proses penempatan peserta setelah menyelesaikan pelatihan.
Keterlibatan tersebut dapat mencakup penyusunan kurikulum, penyediaan instruktur, pelaksanaan praktik kerja, sertifikasi kompetensi, serta membuka akses penempatan bagi lulusan pelatihan.
“Fokus kita jelas: peserta selesai pelatihan, kompetensinya diakui, kemudian bekerja atau berusaha,” katanya.












