Untuk itu, lanjut Ijeck, pihaknya melakukan berbagai usaha memantapkan langkah melantai di bursa dengan menggelar Initial Public Offering (IPO). Sementara itu, Bank BJB merupakan Bank Pembangunan Daerah (BPD) pertama yang menggelar IPO di Tahun 2010 dan jadi BPD terbesar di Indonesia dengan kepemilikan aset dalam jumlah besar dan infrastruktur yang mumpuni.
“Kami berharap dengan pertemuan ini banyak hal-hal yang bisa kami dapatkan. Dari forum diskusi ini kami mohon bantu informasi dan masukan agar saat waktunya nanti saham Bank Sumut dilepas di publik peningkatan nilainya terus meningkat. Saya juga berharap setelah IPO ini, Bank Sumut sebagai BUMD yang menjadi sumber PAD terbesar di Sumut ini bisa lebih profesional. Semoga berkah untuk Bank BJB yang tidak pelit ilmu,” ujarnya.
Ditambahkan Direktur Operasional Bank Sumut Rahmat Fadilah Pohan, posisi aset Bank Sumut saat ini mencapai Rp38 Triliun dengan perolehan laba sebesar Rp614 miliar per 31 Desember 2021. Sementara itu untuk IPO, Bank Sumut merencanakan melantai di bursa pada Juni 2022 mendatang.
“Saat ini Penjamin Emisi Efek (Underwriter), konsultan dan profesional pendukung sudah ada. Insya Allah, kalau tak ada halangan kami melantai di pasar sekunder di bulan enam (Juni) paling cepat atau selambatnya di bulan September. Kami berharap masukan dari Bank BJB untuk kesiapan ini,” ujarnya.












