Rudi juga mempertanyakan alasan sejumlah pemuda memberikan pembelaan terhadap Bobby setelah Gubernur Sumut tersebut meninggalkan ruang paripurna DPRD Sumut dengan alasan sidang tidak kourum.
“Ini yang heran aku. Bobby dibela karena sama-sama masih muda, atau ada alasan lain? Jangan-jangan karena ada yang berharap kecipratan yang enak-enak? Kalau memang ada, ya bilang saja. Jangan pura-pura jadi pahlawan pembela penguasa,” sindirnya.
Menurut dia, kelompok pemuda seharusnya tetap memiliki sikap kritis terhadap pemerintah. Dukungan, kata Rudi, patut diberikan apabila kebijakan maupun tindakan pejabat dinilai benar, sedangkan kritik harus disampaikan ketika terdapat hal yang dianggap keliru.
“Jangan karena ada kepentingan, yang salah juga dibela. Kalau begitu caranya, nanti yang salah pejabatnya, yang sibuk pasang badan malah pemudanya. Ajab kita, bisa panjang cerita ini,” katanya.
Dalam pandangannya, polemik antara eksekutif dan legislatif Sumut juga tidak seharusnya berkembang menjadi persoalan yang mengganggu stabilitas politik daerah. Karena itu, Rudi meminta Ketua DPRD Sumut Erni Sitorus menjalankan perannya secara bijaksana sebagai pimpinan lembaga legislatif.












