“Pemulihan ekonomi terus kami dorong melalui program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana serta penguatan sektor riil seperti pengembangan 1.000 hektare lahan jagung dan budidaya 2.000 kolam bioflok,” ujar Gus Irawan Pasaribu.
Menurutnya, keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, termasuk Bank Sumut dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), sangat dibutuhkan sebagai off-taker guna memastikan hasil produksi masyarakat memiliki kepastian pasar dan mampu menciptakan efek ekonomi berkelanjutan.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan juga mengapresiasi langkah Bank Sumut dalam mendorong percepatan digitalisasi daerah melalui inovasi implementasi QRIS Resto yang dinilai mampu meningkatkan transparansi dan efisiensi pengelolaan keuangan daerah.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sibolga, Riza Putera, menilai penguatan sektor unggulan daerah dan hilirisasi komoditas strategis seperti kopi dan crude palm oil (CPO) menjadi langkah penting untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan bernilai tambah.
Dukungan terhadap penguatan akses pembiayaan turut disampaikan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Utara, Khoirul Muttaqien. Ia menyebut sektor pertanian, khususnya komoditas jagung di Tapanuli Selatan, memiliki prospek yang sangat baik dengan tingkat Non Performing Loan (NPL) yang rendah.












