Contoh pantun yang diucapkan pada acara hempang pintu yaitu:
Pihak mempelai laki-laki
Hari gelap cuaca mendung
Hujan pun reda cuaca terang
Kami yang datang menjadi bingung
Kenapa dipintu kami di halang?
Pihak mempelai wanita
Hempang pintu resam
Melayu Kain panjang di pegang erat
Begitulah resam dahulu
Pintu di hempang menurut adat
Pihak mempelai laki-laki
Kalau tuan ke Tanjung Balai
Sambil berdendang senandung
Asahan Syarat dan rukun sudah selesai
Pengantin nak masuk mengapa ditahan?
Pihak mempelai wanita
Pengawal pintu tegak berdiri
Lengkap pula dengan senjata
Jika nak masuk sediakan kunci
Barulah pintu adat dibuka
Pantun di atas memiliki makna dan pesan yang terdapat pada acara hempang pintu. Secara umum makna yang terdapat pada acara hempang pintu ialah bentuk izin untuk memasuki rumah pengantin perempuan dan adab sopan santun pengantin laki-laki memasuki kehidupan pengantin perempuan. Pesan yang terdapat pada acara hempang pintu ialah proses mendapatkan seorang gadis untuk dijadikan istri tidaklah mudah, begitu juga kehidupan rumah tangga yang akan dijalani.
Keindahan kata dalam pantun memperlihatkan pemikiran dan falsafah Melayu tradisional yang tinggi, asli dan mempunyai nilai seni. Dalam buku Shabri Shaleh Anwar yang berjudul “Membangun kerohanian melalui syair Pantun” dalam cover depan bukunya menggambarkan makna nilai pantun seperti “seni yang indah lagi lembut, menusuk qalbu orang yang santun, isinya sarat makna yang patut, membangun rohani dari syair dan pantun”. Bagi Suku Melayu, makna pantun atau kandungan dalam bait-bait pantun tidak merasa sulit mereka memahaminya, karena mereka sering mendengar pantun dan berpantun, sedangkan bagi non Melayu, tidaklah semudah memahami pantun dari suku Melayu, karena untuk mengetahui pantun dari Melayu, maka terlebih dahulu mengetahui pengetahuan mengenai masyarakat dan kebudayaan Melayu, baik yang berkaitan dengan simbol maupun bahasanya. Perbedaan makna pantun bagi suku Melayu dengan non Melayu tidak terlepas dari ciri khas yang dalam sejarahnya, pantun mewarnai kehidupan suku Melayu.






