Tarigan berharap polisi bertindak tegas dan tidak berpihak dalam mengusut kasus ini.
“Saya berharap polisi tidak berpihak dalam menangani kasus ini, kami cuma datang untuk bekerja tak lain. Semoga laporan saya ditanggapi pihak kepolisian dengan cepat,ā tambah Tarigan.
āKami datang mau kerja berdasarkan IMB yang dikeluarkan pemerintah kota. Kami hanya menyelesaikan pekerjaan membuat pagar di lahan tersebut,” jelas E Romulo Naibaho, selaku kuasa hukum pemilik tanah yang sah Wijako.
Para pekerja mengaku berusaha bertahan dan tidak membalas serangan, namun serangan semakin brutal dan hujan batu dan balok pun tidak terhindarkan. Bahkan pekerja terluka dibagian kepala akibat batu yang mendarat di kepalanya dan ada juga yang cedera di bagian kaki dan tangan.

Salah satu pekerja bangunan Sihotang menceritakan kronologi kejadian tersebut, berawal ketika warga menyerbu para pekerja bangunan saat melakukan muat barang material bangunan. Disinilah kisruh antara masyarakat dan pekerja bangunan mulai memuncak, saat warga datang menyerbu dengan hujan batu dan broti.
“Begitu kami hampir selesai muat mereka datang dengan jumlah yang banyak. Awalnya mereka datang memaki dengan bahasa kasar sembari melempar kami dengan broti kami diam tak menggubris dan terus bekerja menurunkan material. Tapi begitu hujan batu kami terpaksa sembunyi di balik truk, jelas kami bingung mau buat apa. Saat itu lah beberapa dari mereka menyerang kami. Sembari berusaha dan sempat terjadi bentrok kami bertuah kabur dan menyelamatkan diri. Untung polisi cepat datang kalau tidak nyawa kami terancam. Aku nggak tau kalau gini jadinya, tau nya aku ditawari kerja bangunan dengan kawan,” terang Sihotang.












