Romulus yang mengulas ketiga belas Cerpen mengatakan bahwa sebenarnya pengarang tengah menunjukkan isi pikiran, pengamatan bahkan potret pribadi dari pengarang.
“Apa yang ditulis dalam cerpen-cerpen ini menunjukkan pikiran-pikiran Datuk. Saya rasa karya ini memang sangat berguna bagi generasi mendatang,” katanya.
Sementara itu, Tikwan Raya yang diketahui seorang pengamat sastra yang sangat kritis dan tajam mengupas sebuah karya, secara detail menjelaskan pemahamannya kepada hadirin yang datang. Bagi Tikwan karya Ali Yusran Datuk Majoindo yang lebih dikenal dengan nama pena A. Yusran ini merupakan sebuah tawaran untuk menemukan “jalan pulang”.
Memang, katanya kemudian, karya Pak Datuk tidak dimaksudkan tidak untuk semua kalangan. Apalagi untuk generasi milenial yang kurang membaca.
“Cerpen-cerpen Datuk ini sedikit peminatnya. Karena untuk memahami jalan pikirannya harus banyak membaca. Dan tentu saja harga yang harus dibayar mahal oleh pengarang sendiri ialah dirinya kesepian, karena jalan pikirannya tidak banyak diminati dan dimengerti oleh banyak orang ketika ia hidup, tapi hanya sedikit orang. Begitulah nasib para pemikir biasanya. Ketika dia sudah tiada, suaranya akan lebih keras lantang dari dalam kuburannya,” katanya dengan penuh semangat berbicara di depan hadirin.












