Ia kembali melanjutkan pandangannya, βDatuk tidak sabar dalam menuliskan sebuah ide yang sangat besar hanya dalam wadah yang begitu kecil yakni cerpen. Mengapa tidak novel misalnya? Tapi ya begitulah Datuk. Baginya cerpen dan bentuk-bentuk karya tulis lainnya hanyalah wadah bukan tujuan.
Datuk juga tidak pernah menulis hanya untuk keisengan. Tulisannya sangat determinatif, cerpen-cerpennya mengabaikan metode sastra kebanyakan, dan kita akan kesulitan jika memakai kaidah teori sastra. Karya ini memang determinatif. Beberapa cerpennya yang sangat dekat dengan gagasan feminisme misalnya, didasarkan melalui dua aspek mendasar yakni kekuasaan dan kenyataan. Dia tidak akan bicara sebuah perlawanan dalam teks, tanpa melihat dua kutup kekuasaan yang bertolak belakang. Secara keseluruhan karya A. Yusran sangat kental dengan paham eksistensialis yang bercorak Timur bukan Barat. Kesemua cerpen hampir rata melabrak batas-bata. Di awal kita kenali cara berpikirnya seperti A misalnya, namun ternyata tidak A, ya ternyata tidak demikian. Karya-karya Datuk berbau tasawuf dengan maqom (tingkatan) yang tinggi,β katanya lagi.












