Pengarang yang terlahir dengan nama Ali Yusran bergelar Datuk Majoindo, kelahiran Bukittinggi, 19 Januari 1940 dan wafat di Medan pada tanggal 30 Maret 2021, meninggalkan lima orang anak dan delapan cucu.
Zulkifli, anak laki-laki tertuanya dalam sambutan yang penuh haru, mengucapkan terima kasih kepada banyak pihak yang telah membantu terlaksananya acara peluncuran dan bedah buku kumcer Siksa Dosa di Ujung Usia karya orang tuanya.
“Saya sangat bangga menjadi anak biologis bapak saya, dan masih terus belajar memahami cara bapak saya berpikir. Di mana dalam kenyataan setiap harinya kami tahu bahwa bapak kami itu memang berbeda dari kebanyakan bapak-bapak orang. Dia memang saya akui, gemar berpikir mendalam, pikirannya jernih, tidak terkesan dilandasi kepentingan pribadi, hatinya tulus. Dari penjelasan narasumber dan tanggapan hadirin, saya semakin banyak mengerti jalan pikiran bapak saya selama ini. Sejauh ini ibu sambung sayalah yang saya anggap bisa menerjemahkan pikiran-pikiran bapak saya,” katanya.
Aishah Bashar, salah seorang sahabat dekat almarhum yang berprofesi sebagai guru dan kepala sekolah di SMAN I Barus, Tapanuli Tengah mengungkapkan, baginya Ali Yusran tidak saja sebagai kawan dalam dunia sastra tapi lebih dari itu.












