Hal itu muncul dari konstruksi sosial yang dibangun sejak zaman dahulu, sehingga menjadi pandangan umum yang berkembang di tengah-tengah masyarakat.
“Masyarakat kita selalu memandang sesuatu secara patriarki dan keberadaan perempuan selalu diposisikan dari sudut pandang pria. Artinya sistem sosial kita menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral maupun hak sosial,” ujarnya.
Hal itu sangat terlihat di era tahun 1980 ke bawah dan wanita diposisikan dalam program pembangunan atau Women In Development (WIP). Namun perlahan hal itu berubah. Tahun 90-an ke atas kondisinya mulai berubah dan posisi perempuan sudah menjadi Women And Development (WAD).
“Perubahan itu karena perjuangan yang dilakukan para aktivitas perempuan yang terus bergerak dan tak pernah bosan untuk memperjuangkan kesetaraan gender. Kini kita bisa melihat mayoritas di setiap sekolah, rangking 1-10 murid terpintar didominasi oleh wanita. Kalau dulu sangat jarang ada wanita yang jadi kepala sekolah, sekarang sudah sangat banyak,” ujar Ester yang sudah malang melintang sebagai pejuang kesetaraan gender di Sumatera Utara.












