Sementara, soal potensi terbesar dari sektor perkebunan di Sumut, menurut Putra masih lah kelapa sawit. “Kekuatan industrinya menjanjikan. Apalagi petani sawit kini sudah lebih diperhatikan, hubungan petani dan pemerintah nyambung meski infrastruktur masih terganggu.”
“Tapi begitu pun, (pertanian) kita masih kalah dengan dengan Thailand. Di sana, dengan jumlah ketersediaan lahan tak sebagus di sini, produktivitas (petaninya) bisa diunggulkan. Lihat jambu mereka, sangat berkualitas. Juga kelapanya. Kalah kita,” beber Putra.
Berlatar fakta miris itulah, di tahun yang baru berlalu, di kampung tercintanya, Putra mendirikan sekolah modern berbasiis karakter Islami. Tempat yang ditarget menghasilkan generasi Islam yang unggul itu bernama SMK IT Daarul Madinah.
Di bawah naungan Yayasan Pesantren Daarul Putra Madinah , sekolah itu terus membekali para santri dengan 3 ilmu. Agrbisnis, kehutanan, dan perkebunan.. Tiga bidang teknis itu memang terbukti sangat dikuasai Putra, sang pendiri sekolah. “Tapi karakter Islam harus menjadi landasan kepribadian para santri,” tandas sang jagoan penangkar sawit.












