Nilai-nilai budi pekerti semacam itulah yang terus ditanamkan orang tua Putra.
Dan, seiring waktu yang turut berperan menanamkan nilai-nilai luhur tersebut, nama warisan Sang Syekh akhirnya dinilai berhasil menyemaikan tuah dalam kepribadian Putra.
Jejak bukti cinta kuatnya pada orang tua
terjadi saat Putra baru tamat SMP. Di masa inilah takdir keberhasilan masa depannya mulai berproses.
“Sebagai satu-satunya anak lelaki (dalam keluarga), sejak kecil saya memang sudah tak ingin menyusahkan orang tua,” jelas Putra, membuka kisahnya setamat SMP.
Cerita bermula saat Putra mendapat info soal ada sekolah setingkat SMK yang menggratiskan semua biaya pada setiap muridnya. Tak hanya uang sekolah dan segala biaya tetek bengek digratiskan, pakaian seragam pun diberi cuma-cuma.
Info itu kontan menyurutkan niat Putra masuk ke sekolah yang diinginkannya. Dia langsung menelusuri kebenaran kabar itu.
Andai bisa menjadi murid di sekolah serba gratis itu, emak dan ayah tentu tak lagi pusing memikirkan biaya pendidikan anaknya. Demikian isi benak Putra kala itu
Nah, yang lebih merangsang hasratnya, setiap murid lulusan sekolah tak berbiaya itu dijamin diterima kerja di instansi pemerintah dan berstatus PNS (Pegawai Negeri Sipil). Wow…












